Aku
telah melakukan perkenalan, Riza dipilih sebagai ketua marhalah dan dirikupun
dipilih sebagai seksi keamanan. Zul pun sedikit berbangga karena mampu
menunjukkan kemampuan berbicaranya yang intelek meski harus dipotong oleh
Ustad. Akupun mendapat banyak teman baru di marhalah, Riza mendapat kenalan
satu bangkunya.
Arman
Fuadi, teman sebangku Riza berbadan mungil dan berwajah kalem. Alisnya tebal,
hidungnya sangat runcing seperti pensilku saat ujian nasional, wajahnya simpel
dengan stok bulu mata yang terbatas. Namun wajahnya sangat khas dan mudah
diingat. Dia adalah sosok yang pendiam dan cuek. Ia selalu menatap tajam setiap
kali aku bertanya padanya, namun Arman akan langsung menebar senyumnya begitu
ia memulai pembicaraan. Sosoknya unik namun penuh misteri. Dia satu asrama
denganku namun beda kamar. “Asrama Bahagia kamar dua puluh tiga”jelasnya saat
memperkenalkan diri.
Di
bangku paling belakang duduk seorang berperawakan tinggi, kulitnya sawo
kematangan, dengan bibir yang terbentang lebar sepuluh senti dari ufuk timur
sampai penjuru barat. Wajahnya datar dan tak penuh ekspresi. Muhammad Cahya
Purnomo. Namanya sedatar wajahnya. Santri ini berwajah jadul dengan suara
cempreng tak bernada. Saat diriku menanyakan asramanya pun ia menjawab sangat
singkat tanpa memberi pandangan sedikitpun. “Al-Falah”jawabnya saat kutanya,
akupun harus bertanya kembali untuk mengetahui kamarnya, kenapa tak sekalian
saja dia memberi tahu kamarnya?pikirku. “Satu”jawabnya saat kutanya kamarnya
dengan singkat, padat dan menyakitkan.
Perkenalan
hari ini cukup menyenangkan, Ustad Soleh menjelaskan berbagai hal yang
bersangkutan dengan pondok seperti sejarah berdirinya pondok, pengalamannya
selama menjadi santri di sini dan peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap
santri. Ternyata pondok ini didirikan di zaman penjajahan Belanda. Tepatnya
tahun 1922. Dan pernah terlibat perang dengan pasukan Jepang yang menyerang ke
daerah sini.
“Pondok
Pesantren ini didirikan oleh seorang Kiai besar KH.Zaenal Muhsin, dan saat
beliau sudah wafat pondok ini sempat diurus oleh seorang Kiai muda yang
merupakan santri Pondok Sukamanah, KH.Zaenal Musthafa”ceritanya tadi saat
perkenalan pondok sambil membawa sebuah lukisan pria bersurban putih. “Beliau
gugur dalam peperangan melawan penjajah Jepang!”jelasnya kembali dengan kepala
merunduk dan kedua telapak tangan yang saling berpelukan, membuat kami penuh
rasa ingin tahu. Sejarah pondok ini sangat panjang dan berliku-liku, penuh
perjuangan untuk mendirikan pondok semegah ini. Mendengar cerita Ustad Soleh
diriku merasa beruntung menjadi santri di sini, rasa kecewaku semakin terkikis
dan hampir habis. Tak sia-sia diriku mengambil keputusan ini.
………………..






0 komentar:
Posting Komentar