Memuat berbagai macam hal-hal penting. Juga pengekspresian diri.

Training

Jumat, 18 November 2016

Tradisi Disetiap Pesantren

Next~



Aku telah melakukan perkenalan, Riza dipilih sebagai ketua marhalah dan dirikupun dipilih sebagai seksi keamanan. Zul pun sedikit berbangga karena mampu menunjukkan kemampuan berbicaranya yang intelek meski harus dipotong oleh Ustad. Akupun mendapat banyak teman baru di marhalah, Riza mendapat kenalan satu bangkunya.
Arman Fuadi, teman sebangku Riza berbadan mungil dan berwajah kalem. Alisnya tebal, hidungnya sangat runcing seperti pensilku saat ujian nasional, wajahnya simpel dengan stok bulu mata yang terbatas. Namun wajahnya sangat khas dan mudah diingat. Dia adalah sosok yang pendiam dan cuek. Ia selalu menatap tajam setiap kali aku bertanya padanya, namun Arman akan langsung menebar senyumnya begitu ia memulai pembicaraan. Sosoknya unik namun penuh misteri. Dia satu asrama denganku namun beda kamar. “Asrama Bahagia kamar dua puluh tiga”jelasnya saat memperkenalkan diri.
Di bangku paling belakang duduk seorang berperawakan tinggi, kulitnya sawo kematangan, dengan bibir yang terbentang lebar sepuluh senti dari ufuk timur sampai penjuru barat. Wajahnya datar dan tak penuh ekspresi. Muhammad Cahya Purnomo. Namanya sedatar wajahnya. Santri ini berwajah jadul dengan suara cempreng tak bernada. Saat diriku menanyakan asramanya pun ia menjawab sangat singkat tanpa memberi pandangan sedikitpun. “Al-Falah”jawabnya saat kutanya, akupun harus bertanya kembali untuk mengetahui kamarnya, kenapa tak sekalian saja dia memberi tahu kamarnya?pikirku. “Satu”jawabnya saat kutanya kamarnya dengan singkat, padat dan menyakitkan.
Perkenalan hari ini cukup menyenangkan, Ustad Soleh menjelaskan berbagai hal yang bersangkutan dengan pondok seperti sejarah berdirinya pondok, pengalamannya selama menjadi santri di sini dan peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap santri. Ternyata pondok ini didirikan di zaman penjajahan Belanda. Tepatnya tahun 1922. Dan pernah terlibat perang dengan pasukan Jepang yang menyerang ke daerah sini.
“Pondok Pesantren ini didirikan oleh seorang Kiai besar KH.Zaenal Muhsin, dan saat beliau sudah wafat pondok ini sempat diurus oleh seorang Kiai muda yang merupakan santri Pondok Sukamanah, KH.Zaenal Musthafa”ceritanya tadi saat perkenalan pondok sambil membawa sebuah lukisan pria bersurban putih. “Beliau gugur dalam peperangan melawan penjajah Jepang!”jelasnya kembali dengan kepala merunduk dan kedua telapak tangan yang saling berpelukan, membuat kami penuh rasa ingin tahu. Sejarah pondok ini sangat panjang dan berliku-liku, penuh perjuangan untuk mendirikan pondok semegah ini. Mendengar cerita Ustad Soleh diriku merasa beruntung menjadi santri di sini, rasa kecewaku semakin terkikis dan hampir habis. Tak sia-sia diriku mengambil keputusan ini.



………………..
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

clock

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels