Memuat berbagai macam hal-hal penting. Juga pengekspresian diri.

Training

Minggu, 13 November 2016

Tradisi Disetiap Pesantren



TRADISI NENEK MOYANG

Hasil gambar untuk sukahideng

Minggu ini begitu cerah. Kemarin hari masa taujihad telai usai, hari inipun kami akan segera mendapat marhalah. Aku tak sabar menanti-nanti surat pengumuman yang akan ditempel di mading depan kantor Desan. Kerumunan santri sudah memenuhi kantor Desan, santri lama, santri baru sampai santri khusus sudah menanti-nanti kedatangan lembaran kertas yang berisi daftar marhalah tahun ini.  Malam ini kami akan mulai melakukan kegiatan belajar formal di marhalah masing-masing, diriku berharap bisa satu marhalah dengan Riza atau dengan Zulkarnaen.
Seorang pemuda berperawakan pendek dan berbadan lebar menghampiri mading sambil menggenggam lembaran kertas dan sebuah botol kecil bertulisakan “GLUE”. Itu adalah kang Udi, dia adalah pengurus di kantor Desan. Kamipun terus memelototi kertas-kertas itu, gerak-gerik tangan kang Udi begitu lincah, dengan gesit ia mengoleskan lumuran lem ke tembok mading dan langsung melempar lembaran kertas begitu lincah. Begitu seterusnya. “Plak!”suara tabrakan kertas dengan tembok mading terdengar sampai telingaku. Semua santri yang semula sudah hampir pasrah terlalu lama menunggu, sekarang saling berdesak-desakan ingin melihat daftar marhalah itu. “Semuanya tertib melihat daftar marhalah!”kata kang Udi sambil menunjuk-nunjuk kertas yang baru ditempelnya itu. Kami semuapun langsung menyerbu mading, begitu sesak dada ini, seperti saat berdesak-desakan di pintu masjid pusaka. Sedikit demi sedikit aku berjuang menggerakkan kaki yang terjepit ratusan paha di sini, meski hanya beberapa senti, berusaha meraih kertas-kertas itu. Aku menajamkan pandangan berharap dapat membaca tulisan-tulisan kecil tersebut, mataku mulai mengkerut membaca tulisan yang terlihat hanya seperti titik-titik kecil. Masih terlalu jauh, kali ini kutarik pundak seorang santri di hadapanku dan berhasil maju sedikit demi sedikit. Semakin sesak saja, nafasku mulai terengah-engah terjepit ratusan bahkan ribuan kepala di sini. “Kenapa tidak dipasang di beberapa tempat?”keluh batinku sambil berusaha menembus gelombang santri di sini.
Setelah perjuangan yang begitu berat, akhirnya wajahku dapat bertatap muka juga dengan kertas-kertas ini. Mataku mulai sibuk melakukan pencarian, mondar-mandir kesana-kemari. Mengitari sampai ke penjuru kertas, tapi dimana namaku? Sudah beberapa kali diriku memutar ulang pencarian, tak kunjung membuahkan hasil. Namaku tak dapat kutemukan, sedangkan santri lainnya sudah ngomel-ngomel meminta tuk bergantian. Awalnya aku cari di kelas tamhidiyyah satu, dua tak juga ditemukan. Aku beralih ke kertas di sebelahnya, marhalah mutawashitoh, tak mungkin aku masuk ke marhalah itu, tapi masih ada satu kertas di paling ujung. Dengan sekuat mungkin kubergeser sampai ke ujung. Dan pandanganku langsung disambut dengan tulisan berhuruf tebal, kubaca enam belas huruf yang kucari sejak tadi, “Rozi Ahmad Hambali”. Ini dia, diriku masuk di marhalah ibtidaiyyah 1-1. Marhalah yang masih setingkat denganku adalah ibtidaiyyah 1-2, 1-3 dan seterusnya sampai ibtidaiyyah 1-9. Aku lihat ada sekitar lima puluh enam nama tercantum di daftar marhalahku, tapi yang sedikit membuatku terkejut adalah terdapat daftar nama perempuan. Berarti aku akan satu marhalah dengan perempuan, hatiku gelisah, takut tidak bisa fokus nyantri.
Setelah bersusah payah mencari daftar namaku di mading, akupun manarik nafas sepanjang mungkin, begitu tenang. Aku teringat Riza dan Zulkarnaen, bagaimana dengan mereka berdua? Kenapa diriku tak mencarinya saja tadi, namun selang beberapa menit, aku melihat Riza dan Zulkarnaen yang baru keluar dari himpitan santri-santri di depanku, mereka ternganga kelelahan sambil memegang pinggang dan mengelus-ngelus dadanya. Lalu mereka berduapun saling bertatap-tatapan dan kemudian tertawa-tawa saling menepuk-nepuk perut.
“Eh, Zi kita satu marhalah!”seru Zul singkat. “Kenapa aku tidak melihat kalian tadi?”kataku.
“Ndak melihat gimana, kamu tadi menarik-narik pundakku, aku hampir saja tenggelam di tengah sana!”sentaknya dengan logat sunda yang begitu kental. Akupun tertawa terkikik-kikik dan langsung menjabat-jabat tangannya meminta maaf. “Maaf Zul! Aku kira itu bukan kamu!”belaku masih dengan nada memelas-melas.
………….
Next minggu depan ;))
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

clock

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels