TRADISI NENEK MOYANG
Minggu
ini begitu cerah. Kemarin hari masa taujihad telai usai, hari inipun kami akan
segera mendapat marhalah. Aku tak sabar menanti-nanti surat pengumuman yang
akan ditempel di mading depan kantor Desan. Kerumunan santri sudah memenuhi
kantor Desan, santri lama, santri baru sampai santri khusus sudah menanti-nanti
kedatangan lembaran kertas yang berisi daftar marhalah
tahun ini. Malam ini kami akan mulai
melakukan kegiatan belajar formal di marhalah masing-masing, diriku berharap
bisa satu marhalah dengan Riza atau dengan Zulkarnaen.
Seorang
pemuda berperawakan pendek dan berbadan lebar menghampiri mading sambil
menggenggam lembaran kertas dan sebuah botol kecil bertulisakan “GLUE”. Itu
adalah kang Udi, dia adalah pengurus di kantor Desan. Kamipun terus memelototi
kertas-kertas itu, gerak-gerik tangan kang Udi begitu lincah, dengan gesit ia
mengoleskan lumuran lem ke tembok mading dan langsung melempar lembaran kertas
begitu lincah. Begitu seterusnya. “Plak!”suara tabrakan kertas dengan tembok
mading terdengar sampai telingaku. Semua santri yang semula sudah hampir pasrah
terlalu lama menunggu, sekarang saling berdesak-desakan ingin melihat daftar
marhalah itu. “Semuanya tertib melihat daftar marhalah!”kata kang Udi sambil
menunjuk-nunjuk kertas yang baru ditempelnya itu. Kami semuapun langsung
menyerbu mading, begitu sesak dada ini, seperti saat berdesak-desakan di pintu
masjid pusaka. Sedikit demi sedikit aku berjuang menggerakkan kaki yang
terjepit ratusan paha di sini, meski hanya beberapa senti, berusaha meraih
kertas-kertas itu. Aku menajamkan pandangan berharap dapat membaca
tulisan-tulisan kecil tersebut, mataku mulai mengkerut membaca tulisan yang
terlihat hanya seperti titik-titik kecil. Masih terlalu jauh, kali ini kutarik
pundak seorang santri di hadapanku dan berhasil maju sedikit demi sedikit.
Semakin sesak saja, nafasku mulai terengah-engah terjepit ratusan bahkan ribuan
kepala di sini. “Kenapa tidak dipasang di beberapa tempat?”keluh batinku sambil
berusaha menembus gelombang santri di sini.
Setelah
perjuangan yang begitu berat, akhirnya wajahku dapat bertatap muka juga dengan
kertas-kertas ini. Mataku mulai sibuk melakukan pencarian, mondar-mandir
kesana-kemari. Mengitari sampai ke penjuru kertas, tapi dimana namaku? Sudah
beberapa kali diriku memutar ulang pencarian, tak kunjung membuahkan hasil.
Namaku tak dapat kutemukan, sedangkan santri lainnya sudah ngomel-ngomel
meminta tuk bergantian. Awalnya aku cari di kelas tamhidiyyah satu, dua tak
juga ditemukan. Aku beralih ke kertas di sebelahnya, marhalah mutawashitoh, tak
mungkin aku masuk ke marhalah itu, tapi masih ada satu kertas di paling ujung.
Dengan sekuat mungkin kubergeser sampai ke ujung. Dan pandanganku langsung
disambut dengan tulisan berhuruf tebal, kubaca enam belas huruf yang kucari
sejak tadi, “Rozi Ahmad Hambali”.
Ini dia, diriku masuk di marhalah ibtidaiyyah 1-1. Marhalah yang masih
setingkat denganku adalah ibtidaiyyah 1-2, 1-3 dan seterusnya sampai
ibtidaiyyah 1-9. Aku lihat ada sekitar lima puluh enam nama tercantum di daftar
marhalahku, tapi yang sedikit membuatku terkejut adalah terdapat daftar nama
perempuan. Berarti aku akan satu marhalah dengan perempuan, hatiku gelisah,
takut tidak bisa fokus nyantri.
Setelah
bersusah payah mencari daftar namaku di mading, akupun manarik nafas sepanjang
mungkin, begitu tenang. Aku teringat Riza dan Zulkarnaen, bagaimana dengan
mereka berdua? Kenapa diriku tak mencarinya saja tadi, namun selang beberapa
menit, aku melihat Riza dan Zulkarnaen yang baru keluar dari himpitan
santri-santri di depanku, mereka ternganga kelelahan sambil memegang pinggang
dan mengelus-ngelus dadanya. Lalu mereka berduapun saling bertatap-tatapan dan
kemudian tertawa-tawa saling menepuk-nepuk perut.
“Eh,
Zi kita satu marhalah!”seru Zul singkat. “Kenapa aku tidak melihat kalian
tadi?”kataku.
“Ndak
melihat gimana, kamu tadi menarik-narik pundakku, aku hampir saja tenggelam di
tengah sana!”sentaknya dengan logat sunda yang begitu kental. Akupun tertawa
terkikik-kikik dan langsung menjabat-jabat tangannya meminta maaf. “Maaf Zul!
Aku kira itu bukan kamu!”belaku masih dengan nada memelas-melas.
………….
Next minggu depan ;))






0 komentar:
Posting Komentar