Memuat berbagai macam hal-hal penting. Juga pengekspresian diri.

Training

Jumat, 18 November 2016

Tradisi Disetiap Pesantren



Next~
Sore ini begitu mendebarkan, aku dan Zul sedikit gelisah tentang  malam ini. Kami akan mulai mengaji, belajar formal di pondok. Siapa yang akan menjadi guru kami nanti? pelajaran apa yang akan kami hadapi nanti? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sedang meledak-ledak dalam benakku, seusai solat magrib semua santri akan langsung digiring ke marhalahnya masing-masing. Jadwal mengaji di sini adalah seusai solat subuh sampai jam setengah tujuh pagi, kemudian setelah solat asar sampai jam lima petang dan setelah solat magrib sampai jam delapan malam. Barulah jam delapan santri melaksanakan solat isya’ berjamaah di masjid Jami.
Solat magrib pun telah dilaksanakan, bacaan aurod telah selesai pula dibacakan. Sekarang adalah saatnya berangkat ke kelas pengajian atau marhalah. Riza tampak begitu bersemangat dan memasang wajah berseri-seri. Aku dan Zul hanya pasrah membawa sebuah al-qur’an dan buku tulis dengan pulpen lima belas senti yang terjepit di tengah buku ini. Aku dengar di pondok ini santri akan disibukkan dengan pengkajian kitab kuning. Kitab kuning dengan arab gundul, bagaimana aku bisa membacanya?pikirku gelisah. Huruf Arab yang tertulis di dalamnya adalah arab botak tanpa helai rambut harokat sedikitpun. Kami akan diberi daftar kitab yang harus kami beli setelah malam ini. jiwa ini meronta-ronta mendengar kabar-kabar menyeramkan itu, hatiku meletup-letup terbakar ketakutan dan kegelisahan jika harus berperang dengan arab botak malam ini. Bahasa arab pun tak pernah kupelajari, walau hanya satu kata, sedangkan ini adalah pengkajian kitab kuning yang bertuliskan arab botak, atau minimal arab cepak dengan harokat hanya di ujung-ujung hurufnya.
Sudah lengkap badai penderitaanku kali ini. Diriku, Riza dan Zul mencari-cari dimana kelas kami? Beberapa kali kami salah masuk dan membuat kami harus menahan malu. “Kang, ini marhalah ibtidaiyyah 1-1?”tanyaku pada seorang santri yang sebaya denganku. “Ibtidaiyyah 3”tegasnya. Mendadak darah dari sekujur tubuh mengalir deras ke permukaan pipi. Menahan malu. Beberapa kali kami harus mondar-mandir mencari-cari kelas, naik turun tangga tanpa henti.
“Hey, Zi. Kesini!”panggil Zul sambil melambai-lambaikan kelima jarinya. Diriku dan Rizapun bergegas menuju ruangan yang dibelakangi Zul itu.
Aku melihat ruangan dipenuhi santriwan dan juga santriwati, kami bertiga hanya terdiam saat duduk di ruangan marhalah ini. Zul terdiam memperhatikan seluruh penjuru ruangan dengan tatapan malas. Aku duduk satu bangku dengan Zulkarnaen, Riza duduk dengan seorang santri bertubuh pendek dan berwajah teduh. Sepertinya Riza mendapat satu teman baru, ia saling bertanya-tanya dengan teman barunya itu.
Kami semua masih membeku, belum saling kenal dan masih terkenang masa-masa di rumah. Aku dan Zul terdiam tanpa saling bertanya sedikitpun, tampaknya suasana kelas yang sangat kaku ini membuat kami berdua seolah belum saling mengenal. Dari jendela kulihat sosok lelaki berperawakan tegap dengan tubuh yang tak terlalu tinggi dan tak terlalu pendek, gaya berjalannya sangat santai dan bersahaja. Wajahnya berwibawa dan tenang. Sepertinya pria itu mengarah ke ruangan kami, dia sempat berhenti saat seorang pria lain menyapanya. Aku dan seisi kelas melempar pandangan ke pria itu, sepertinya kami semua satu pemikiran. “Itu adalah Ustad yang akan mengajar di marhalah kami!”pikirku. Zul dan Riza menatap serius gerak-gerik pria yang berdiri di luar tersebut, seorang anak bermuka gelap di ujung kelas memanjangkan lehernya berusaha meraih pandangan karena terhalang oleh teman sebangkunya yang bertubuh jumbo. Santriwati di marhalah kamipun tampak memasang wajah penasaran dan terus menatap pria itu.
“Assalamualaikum!”salam pria itu di depan pintu. Kami semua serentak menjawab salam, wajahnya menebarkan senyuman bersahaja saat mengucapkan salam, membuat hati ini tak setegang semula. Langkahnya tenang dengan memeluk sebuah buku tipis di dadanya, lalu ditaruhnya buku itu dan dia langsung menyebarkan sorotan matanya ke penjuru ruangan.
“Ini marhalah ibtidaiyyah 1-1?”tanyanya dengan suara karismatiknya. “Iya pak!”jawab seorang anak bermuka gelap dengan semangat meledak-ledak. Seluruh mata langsung tertuju pada anak yang menjawab dengan lantang tersebut. “Bagus nak! Baru hari pertama kamu sudah sesemangat itu! Siapa nama kamu?” kata pria itu dengan senyuman yang terselip di bibirnya.
“Nama saya Maul pak!”jawabnya sambil mengangguk-nganggukkan kepala. Tampaknya anak ini akan menjadi maskot di marahalah kami, di awal pertemuan ini ia sudah percaya diri seperti itu. “Baiklah, saya akan memperkenalkan diri saya dulu!”kata pria berbadan tegap itu penuh ketenangan. Setiap kata yang mengalir dari bibirnya benar-benar terasa menenangkan karena suaranya yang berat dan nada yang harmonis. “Nama saya Soleh Cahyadin”lanjutnya sambil menuliskan namanya di papan tulis. Ustad Soleh, ini adalah nama yang pas sesuai dengan postur tubuh dan bentuk wajahnya. Cara berbicaranya yang kalem melunturkan rasa tegang yang sempat menyelimuti ruangan ini. Dia menatap seisi ruangan lalu tertawa tenang sambil mengelus-ngelus dada. Ada apa dengan Ustad Soleh, kenapa sejak tadi ia terus tersenyum.
“Kalian ini, kok ngelamun aja! Semangat dong, masa semuanya tegang seperti ini!”seru Ustad Soleh sambil memukul-mukul papan tulis. “Saya akan menjadi wali kelas kalian selama satu tahun pelajaran di pondok ini!”lanjutnya berusaha menyejukkan suasana kelas yang benar-benar sepi dan membeku ini. “Wajar, kalian masih santri baru! Jadi masih malu-malu untuk mengungkapkan sesuatu!”.
“Baik, kita akan melakukan perkenalan dulu! Dimulai dari kamu!”Ustad Soleh mendadak menunjuk diriku. Tubuh ini serasa ditembak mendadak dari jarak jauh, gemetar dan kaku. Aku banting seluruh perasaan tegang yang sejak tadi menjajah raga ini, aku berusaha menenangkan diri dan menghilangkan perasaan kaku.
“Nama saya Rozi Ahmad Hambali! Saya berasal dari Indramayu!”tuturku dengan lantang, membuat seisi kelas terguncang-guncang.  Ustad Soleh tersenyum-senyum melihat diriku yang lantang memperkenalkan diri, namun pandangannya langsung beralih pada Riza. Dia menatap Riza dengan wajah terheran-heran lalu menatapku lagi, dan terus membolak-balik matanya ke Riza lalu beralih padaku. Sepertinya Ustad Soleh sedikit terheran melihat wajah kami yang tampak sama. Entah mengapa orang-orang menganggap wajah kami berdua mirip karena kami kembar. Padahal kedua orang tuaku pun tak menemukan kemiripan antara kami berdua, bahkan aku dan Riza pun tak merasa memliki wajah yang sejenis. Mungkin karena orang lain jarang bertemu dengan kami sampai-sampai mereka tak mampu membedakan kami berdua.
“Nama yang bagus! Tapi kenapa wajahmu mirip dengan anak itu?” Ustad Soleh terheran-heran. Semua pandangan tertuju padaku dan Riza begitu Ustad mengatakan wajah kami sama. Aku mendengar mereka berbisik-bisik dan memandang diriku dan Riza secara bergantian. Anak bermuka gelap yang tadi menjawab dengan lantang, manatapku dengan mata terbuka lebar dan mulut yang sedikit terbuka. Seorang perempuan berwajah putih cerah dengan bulu mata yang lentik dan jilbab yang menjulur panjang sampai ke pinggang menatapku beberapa kali lalu mengalihkan pandangan dan tersenyum malu sambil menundukkan kepala. Membuatku sedikit pede. Riza terlihat risih menjadi sorotan satu marhalah, Zulkarnaen tersenyum tipis sambil menyenggol-nyenggol pundakku. “Hari pertama kayaknya langsung jadi artis nih!”bisiknya. Keningku mengkerut begitu mendengar bisikannya itu, melihat keningku yang mengkerut seperti orang yang marah Zul langsung membuang muka. “Amin!”bisikku pada Zul. Dia tertawa terkekeh-kekeh mendengar diriku mengamini ucapannya itu. “Siapa nama kamu?”kali ini Ustad Soleh menatap Riza. “Riza Ahmad Hanafi”Riza memperkenalkan namanya dengan penuh bangga. Kemudian Ustad Soleh menoleh padaku dan mengisyaratkan padaku dengan mengangkat kedua alisnya satu senti dari posisi semula.
“Kami berdua kembar Ustad!”ujarku sedikit terpaksa. Sebenarnya diriku selalu keberatan jika harus mengatakan bahwa diriku adalah anak kembar. Entah kenapa selalu begitu, Riza pun mengalami kondisi yang sama, ia merasa sedikit keberatan jika harus mengatakan bahwa kami adalah anak kembar. Seisi kelas langsung dibanjiri gemuruh santriwan dan santriwati yang saling berbisik-bisik begitu mendengar perkataanku tadi. Mereka semua tampak terheran-heran, bahkan santriwan dan santriwati yang duduk di bagian belakang berusaha melihat wajah kami berdua. Inilah yang paling membuatku merasa risih, kami menjadi sorotan satu kelas. Saat pertama kali mengenaliku,Zulkaranaen pun terus memandangiku tatkala ia mengetahui kami adalah saudara kembar saat masa taujihad, ia beberapa kali memanggilku Riza dan memanggil Riza dengan namaku. Namun hanya dalam beberapa hari dirinya sudah mampu membedakan kami berdua tanpa kesalahan sedikitpun.
“Beruntung bapak punya murid kembar! Semuanya jangan ngeliatin gitu, nanti teman kalian ini risih!” kata Ustad Soleh menebar pandangannya ke penjuru kelas. “Ya sudah kita akan melanjutkan perkenalan!”.
“Zulkarnaen Ibnu Hibban”kata Zulkarnaen setelah disuruh berdiri memperkenalkan diri. “Saya asli orang Tasik Ustad!”jelasnya lagi dengan nada sok wibawanya. “Awalnya saya mau masuk ke sekolah favorit di Bandung Ustad! Tapi ada satu hal yang mendorong diri saya untuk masuk ke pondok ini!”tambahnya lagi tanpa diminta, Zul memang tipe orang yang pedean. Ia sangat memperhatikan penampilan, harga diri dan tak ingin menodai nama baiknya sedikitpun dengan hal sekecil apapun. Selalu tampil sok wibawa dan penuh rasa percaya diri, gaya berbicaranya pun penuh dengan nuansa pejabat alias sok pejabat. Itulah yang menjadi daya tarik tersendiri dari sosok temanku yang satu ini. “Saya sadar bahwa kondisi zaman kita sekarang ini mengalami dekadensi moral, maka dari itu problem yang sangat signifikan ini harus segera mendapat solusi. Saya meninjau dari perpsektif …”.  “Sudah cukup, kita lanjutkan perkenalan!”potong Ustad Soleh sambil tertawa kecil mendengar gaya bicara Zul yang sok pejabat itu.
Pertemuan kali ini hanya diisi dengan perkenalan marhalah, mata pelajaran yang akan kami hadapi dan juga pemilihan pengurus kelas. Aku dan Riza adalah senior di marhalah ini, kami berdua sudah duduk di kelas dua MTs karena kami adalah murid pindahan, sedangkan yang lainnya adalah anak kelas satu. Maka dari itu Riza sebagai anak tertua di marhalah, ia dipilih sebagai ketua marhalah kami. Diriku sendiri dipilih menjadi bagian keamanan di kelas, Riza dipilih sebagai ketua marhalah setelah mendapat suara terbanyak dari hasil musyawarah yang dipimpin oleh Ustad Soleh.
Ustad Soleh pun membagikan selembaran kertas yang berisi daftar kitab yang harus kami beli. Kitab yang akan kami pelajari di tingkat ibtidaiyyah ini ada sepuluh macam kitab. Kami akan mempelajari tata bahasa Arab melalui kitab Jurumiyyah, kitab ini adalah kitab paling dasar yang dipelajari di hampir semua pesantren di nusantara. Konon pelajaran inilah yang dianggap sebagai pelajar angker yang membuat ciut siapa saja yang menghadapinya. Pondok ini memang sangat memperhatikan mata pelajaran yang satu ini, karena ini adalah gerbang untuk memperdalam agama islam. Akhir-akhir inipun diriku baru tahu, bahwa pelajaran bahasa Arab ini atau biasa disebut ilmu nahwu shorof, dapat membantu kita membaca tulisan arab gundul. Kami juga akan diberi materi hafalan surat, dulu, di pengajian di kampungku aku hanya menghafal surat-surat pendek.
 Tapi saat Ustad Soleh memberi materi hafalan, mendadak satu kelas menganga lebar dengan wajah lesu dan kusam. Kami harus menghafal surat Al-Mulk dan Al-Waqi’ah. Kemudian kami juga akan mempelajari keilmuan lainnya seperti fiqh, tauhid, tasawuf, hadits, siroh nabi sampai tafsir Al-Quran. Itu semua akan menjadi santapan kami sehari-hari di pondok ini. Kami akan membeli semua kitab itu di kantor Desan yang menyediakan semua kebutuhan kitab santri di sini. Diriku benar-benar akan disibukkan dengan kegiatan yang ekstra padat, belajar di pondok dan juga di sekolah. Besok diriku akan mulai masuk sekolah dan juga mulai belajar di pondok.


……………
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

clock

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels