Next~
Sore
ini begitu mendebarkan, aku dan Zul sedikit gelisah tentang malam ini. Kami akan mulai mengaji, belajar
formal di pondok. Siapa yang akan menjadi guru kami nanti? pelajaran apa yang
akan kami hadapi nanti? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sedang meledak-ledak
dalam benakku, seusai solat magrib semua santri akan langsung digiring ke
marhalahnya masing-masing. Jadwal mengaji di sini adalah seusai solat subuh
sampai jam setengah tujuh pagi, kemudian setelah solat asar sampai jam lima
petang dan setelah solat magrib sampai jam delapan malam. Barulah jam delapan
santri melaksanakan solat isya’ berjamaah di masjid Jami.
Solat
magrib pun telah dilaksanakan, bacaan aurod telah selesai pula dibacakan.
Sekarang adalah saatnya berangkat ke kelas pengajian atau marhalah. Riza tampak
begitu bersemangat dan memasang wajah berseri-seri. Aku dan Zul hanya pasrah
membawa sebuah al-qur’an dan buku tulis dengan pulpen lima belas senti yang
terjepit di tengah buku ini. Aku dengar di pondok ini santri akan disibukkan
dengan pengkajian kitab kuning. Kitab kuning dengan arab gundul, bagaimana aku
bisa membacanya?pikirku gelisah. Huruf Arab yang tertulis di dalamnya adalah
arab botak tanpa helai rambut harokat sedikitpun. Kami akan diberi daftar kitab
yang harus kami beli setelah malam ini. jiwa ini meronta-ronta mendengar
kabar-kabar menyeramkan itu, hatiku meletup-letup terbakar ketakutan dan
kegelisahan jika harus berperang dengan arab botak malam ini. Bahasa arab pun
tak pernah kupelajari, walau hanya satu kata, sedangkan ini adalah pengkajian
kitab kuning yang bertuliskan arab botak, atau minimal arab cepak dengan
harokat hanya di ujung-ujung hurufnya.
Sudah
lengkap badai penderitaanku kali ini. Diriku, Riza dan Zul mencari-cari dimana
kelas kami? Beberapa kali kami salah masuk dan membuat kami harus menahan malu.
“Kang, ini marhalah ibtidaiyyah 1-1?”tanyaku pada seorang santri yang sebaya
denganku. “Ibtidaiyyah 3”tegasnya. Mendadak darah dari sekujur tubuh mengalir
deras ke permukaan pipi. Menahan malu. Beberapa kali kami harus mondar-mandir
mencari-cari kelas, naik turun tangga tanpa henti.
“Hey,
Zi. Kesini!”panggil Zul sambil melambai-lambaikan kelima jarinya. Diriku dan
Rizapun bergegas menuju ruangan yang dibelakangi Zul itu.
Aku
melihat ruangan dipenuhi santriwan dan juga santriwati, kami bertiga hanya
terdiam saat duduk di ruangan marhalah ini. Zul terdiam memperhatikan seluruh
penjuru ruangan dengan tatapan malas. Aku duduk satu bangku dengan Zulkarnaen,
Riza duduk dengan seorang santri bertubuh pendek dan berwajah teduh. Sepertinya
Riza mendapat satu teman baru, ia saling bertanya-tanya dengan teman barunya
itu.
Kami
semua masih membeku, belum saling kenal dan masih terkenang masa-masa di rumah.
Aku dan Zul terdiam tanpa saling bertanya sedikitpun, tampaknya suasana kelas
yang sangat kaku ini membuat kami berdua seolah belum saling mengenal. Dari
jendela kulihat sosok lelaki berperawakan tegap dengan tubuh yang tak terlalu
tinggi dan tak terlalu pendek, gaya berjalannya sangat santai dan bersahaja.
Wajahnya berwibawa dan tenang. Sepertinya pria itu mengarah ke ruangan kami,
dia sempat berhenti saat seorang pria lain menyapanya. Aku dan seisi kelas
melempar pandangan ke pria itu, sepertinya kami semua satu pemikiran. “Itu adalah
Ustad yang akan mengajar di marhalah kami!”pikirku. Zul dan Riza menatap serius
gerak-gerik pria yang berdiri di luar tersebut, seorang anak bermuka gelap di
ujung kelas memanjangkan lehernya berusaha meraih pandangan karena terhalang
oleh teman sebangkunya yang bertubuh jumbo. Santriwati di marhalah kamipun
tampak memasang wajah penasaran dan terus menatap pria itu.
“Assalamualaikum!”salam
pria itu di depan pintu. Kami semua serentak menjawab salam, wajahnya
menebarkan senyuman bersahaja saat mengucapkan salam, membuat hati ini tak
setegang semula. Langkahnya tenang dengan memeluk sebuah buku tipis di dadanya,
lalu ditaruhnya buku itu dan dia langsung menyebarkan sorotan matanya ke
penjuru ruangan.
“Ini
marhalah ibtidaiyyah 1-1?”tanyanya dengan suara karismatiknya. “Iya pak!”jawab
seorang anak bermuka gelap dengan semangat meledak-ledak. Seluruh mata langsung
tertuju pada anak yang menjawab dengan lantang tersebut. “Bagus nak! Baru hari
pertama kamu sudah sesemangat itu! Siapa nama kamu?” kata pria itu dengan
senyuman yang terselip di bibirnya.
“Nama
saya Maul pak!”jawabnya sambil mengangguk-nganggukkan kepala. Tampaknya anak
ini akan menjadi maskot di marahalah kami, di awal pertemuan ini ia sudah percaya
diri seperti itu. “Baiklah, saya akan memperkenalkan diri saya dulu!”kata pria
berbadan tegap itu penuh ketenangan. Setiap kata yang mengalir dari bibirnya
benar-benar terasa menenangkan karena suaranya yang berat dan nada yang
harmonis. “Nama saya Soleh Cahyadin”lanjutnya sambil menuliskan namanya di
papan tulis. Ustad Soleh, ini adalah nama yang pas sesuai dengan postur tubuh
dan bentuk wajahnya. Cara berbicaranya yang kalem melunturkan rasa tegang yang
sempat menyelimuti ruangan ini. Dia menatap seisi ruangan lalu tertawa tenang
sambil mengelus-ngelus dada. Ada apa dengan Ustad Soleh, kenapa sejak tadi ia
terus tersenyum.
“Kalian
ini, kok ngelamun aja! Semangat dong, masa semuanya tegang seperti ini!”seru
Ustad Soleh sambil memukul-mukul papan tulis. “Saya akan menjadi wali kelas
kalian selama satu tahun pelajaran di pondok ini!”lanjutnya berusaha
menyejukkan suasana kelas yang benar-benar sepi dan membeku ini. “Wajar, kalian
masih santri baru! Jadi masih malu-malu untuk mengungkapkan sesuatu!”.
“Baik,
kita akan melakukan perkenalan dulu! Dimulai dari kamu!”Ustad Soleh mendadak
menunjuk diriku. Tubuh ini serasa ditembak mendadak dari jarak jauh, gemetar
dan kaku. Aku banting seluruh perasaan tegang yang sejak tadi menjajah raga
ini, aku berusaha menenangkan diri dan menghilangkan perasaan kaku.
“Nama
saya Rozi Ahmad Hambali! Saya berasal dari Indramayu!”tuturku dengan lantang,
membuat seisi kelas terguncang-guncang.
Ustad Soleh tersenyum-senyum melihat diriku yang lantang memperkenalkan
diri, namun pandangannya langsung beralih pada Riza. Dia menatap Riza dengan
wajah terheran-heran lalu menatapku lagi, dan terus membolak-balik matanya ke
Riza lalu beralih padaku. Sepertinya Ustad Soleh sedikit terheran melihat wajah
kami yang tampak sama. Entah mengapa orang-orang menganggap wajah kami berdua
mirip karena kami kembar. Padahal kedua orang tuaku pun tak menemukan kemiripan
antara kami berdua, bahkan aku dan Riza pun tak merasa memliki wajah yang
sejenis. Mungkin karena orang lain jarang bertemu dengan kami sampai-sampai
mereka tak mampu membedakan kami berdua.
“Nama
yang bagus! Tapi kenapa wajahmu mirip dengan anak itu?” Ustad Soleh
terheran-heran. Semua pandangan tertuju padaku dan Riza begitu Ustad mengatakan
wajah kami sama. Aku mendengar mereka berbisik-bisik dan memandang diriku dan
Riza secara bergantian. Anak bermuka gelap yang tadi menjawab dengan lantang,
manatapku dengan mata terbuka lebar dan mulut yang sedikit terbuka. Seorang
perempuan berwajah putih cerah dengan bulu mata yang lentik dan jilbab yang
menjulur panjang sampai ke pinggang menatapku beberapa kali lalu mengalihkan
pandangan dan tersenyum malu sambil menundukkan kepala. Membuatku sedikit pede.
Riza terlihat risih menjadi sorotan satu marhalah, Zulkarnaen tersenyum tipis
sambil menyenggol-nyenggol pundakku. “Hari pertama kayaknya langsung jadi artis
nih!”bisiknya. Keningku mengkerut begitu mendengar bisikannya itu, melihat
keningku yang mengkerut seperti orang yang marah Zul langsung membuang muka.
“Amin!”bisikku pada Zul. Dia tertawa terkekeh-kekeh mendengar diriku mengamini
ucapannya itu. “Siapa nama kamu?”kali ini Ustad Soleh menatap Riza. “Riza Ahmad
Hanafi”Riza memperkenalkan namanya dengan penuh bangga. Kemudian Ustad Soleh
menoleh padaku dan mengisyaratkan padaku dengan mengangkat kedua alisnya satu
senti dari posisi semula.
“Kami
berdua kembar Ustad!”ujarku sedikit terpaksa. Sebenarnya diriku selalu
keberatan jika harus mengatakan bahwa diriku adalah anak kembar. Entah kenapa
selalu begitu, Riza pun mengalami kondisi yang sama, ia merasa sedikit
keberatan jika harus mengatakan bahwa kami adalah anak kembar. Seisi kelas
langsung dibanjiri gemuruh santriwan dan santriwati yang saling berbisik-bisik
begitu mendengar perkataanku tadi. Mereka semua tampak terheran-heran, bahkan santriwan
dan santriwati yang duduk di bagian belakang berusaha melihat wajah kami
berdua. Inilah yang paling membuatku merasa risih, kami menjadi sorotan satu
kelas. Saat pertama kali mengenaliku,Zulkaranaen pun terus memandangiku tatkala
ia mengetahui kami adalah saudara kembar saat masa taujihad, ia beberapa kali
memanggilku Riza dan memanggil Riza dengan namaku. Namun hanya dalam beberapa
hari dirinya sudah mampu membedakan kami berdua tanpa kesalahan sedikitpun.
“Beruntung
bapak punya murid kembar! Semuanya jangan ngeliatin gitu, nanti teman kalian
ini risih!” kata Ustad Soleh menebar pandangannya ke penjuru kelas. “Ya sudah
kita akan melanjutkan perkenalan!”.
“Zulkarnaen
Ibnu Hibban”kata Zulkarnaen setelah disuruh berdiri memperkenalkan diri. “Saya
asli orang Tasik Ustad!”jelasnya lagi dengan nada sok wibawanya. “Awalnya saya
mau masuk ke sekolah favorit di Bandung Ustad! Tapi ada satu hal yang mendorong
diri saya untuk masuk ke pondok ini!”tambahnya lagi tanpa diminta, Zul memang
tipe orang yang pedean. Ia sangat memperhatikan penampilan, harga diri dan tak
ingin menodai nama baiknya sedikitpun dengan hal sekecil apapun. Selalu tampil
sok wibawa dan penuh rasa percaya diri, gaya berbicaranya pun penuh dengan
nuansa pejabat alias sok pejabat. Itulah yang menjadi daya tarik tersendiri
dari sosok temanku yang satu ini. “Saya sadar bahwa kondisi zaman kita sekarang
ini mengalami dekadensi moral, maka dari itu problem yang sangat signifikan ini
harus segera mendapat solusi. Saya meninjau dari perpsektif …”. “Sudah cukup, kita lanjutkan
perkenalan!”potong Ustad Soleh sambil tertawa kecil mendengar gaya bicara Zul
yang sok pejabat itu.
Pertemuan
kali ini hanya diisi dengan perkenalan marhalah, mata pelajaran yang akan kami
hadapi dan juga pemilihan pengurus kelas. Aku dan Riza adalah senior di
marhalah ini, kami berdua sudah duduk di kelas dua MTs karena kami adalah murid
pindahan, sedangkan yang lainnya adalah anak kelas satu. Maka dari itu Riza
sebagai anak tertua di marhalah, ia dipilih sebagai ketua marhalah kami. Diriku
sendiri dipilih menjadi bagian keamanan di kelas, Riza dipilih sebagai ketua
marhalah setelah mendapat suara terbanyak dari hasil musyawarah yang dipimpin
oleh Ustad Soleh.
Ustad
Soleh pun membagikan selembaran kertas yang berisi daftar kitab yang harus kami
beli. Kitab yang akan kami pelajari di tingkat ibtidaiyyah ini ada sepuluh
macam kitab. Kami akan mempelajari tata bahasa Arab melalui kitab Jurumiyyah,
kitab ini adalah kitab paling dasar yang dipelajari di hampir semua pesantren
di nusantara. Konon pelajaran inilah yang dianggap sebagai pelajar angker yang
membuat ciut siapa saja yang menghadapinya. Pondok ini memang sangat
memperhatikan mata pelajaran yang satu ini, karena ini adalah gerbang untuk
memperdalam agama islam. Akhir-akhir inipun diriku baru tahu, bahwa pelajaran
bahasa Arab ini atau biasa disebut ilmu nahwu shorof, dapat membantu kita
membaca tulisan arab gundul. Kami juga akan diberi materi hafalan surat, dulu,
di pengajian di kampungku aku hanya menghafal surat-surat pendek.
Tapi saat Ustad Soleh memberi materi hafalan,
mendadak satu kelas menganga lebar dengan wajah lesu dan kusam. Kami harus
menghafal surat Al-Mulk dan Al-Waqi’ah. Kemudian kami juga akan mempelajari
keilmuan lainnya seperti fiqh, tauhid, tasawuf, hadits, siroh nabi sampai
tafsir Al-Quran. Itu semua akan menjadi santapan kami sehari-hari di pondok
ini. Kami akan membeli semua kitab itu di kantor Desan yang menyediakan semua
kebutuhan kitab santri di sini. Diriku benar-benar akan disibukkan dengan
kegiatan yang ekstra padat, belajar di pondok dan juga di sekolah. Besok diriku
akan mulai masuk sekolah dan juga mulai belajar di pondok.
……………